Jumat, 21 November 2014

Teknik Pembibitan Kakao (Theobroma cacao L.) di Balai Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya Desa Jreuk Bakkreh Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Studi lapang adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa/i yang kegiatannya langsung terjun/berkunjung ke lapangan untuk melihat langsung bagaimana  kondisi pertanian di lapangan  yang dikunjungi. Studi lapang ini memberikan banyak pengetahuan bagi mahasiswa/i baik di bidang pertanian, social dan budaya. Dengan adanya studi lapang ini mahasiswa/i mampu menambah wawasan yang lebih luas yang berkaitan dengan ilmu pertanian.
Selama ini mahasiswa/i dalam proses pembelajaran hanya dilakukan didalam ruangan saja secara bertatap muka, sehingga sebagian mahasiswa/i kurang mengerti dan kurang mengetahui lebih banyak lagi tentang pertanian. Maka diadakannya studi lapang ini merupakan perubahan dari proses pembelajaran selama ini sehingga mahasiswa/i diharapkan mampu menambah wawasannya dan mengetahui bagaimana sebenarnya sistem  pertanian sekarang ini.
Dalam kegiatan studi lapang ini, mahasiswa/i diperkenalkan dengan berbagai objek-ojek pertanian dan  mahasiswa dituntut untuk bertanya dan  mengembangkan ilmu yang didapat dibangku kuliahan dan menerapkan ilmu-ilmu langsung kelapangan dan bergelut kepada para petani dan lembaga-lembaga yang bergerak dibidang pertanian maupun perkebunan. Pada kegiatan studi lapang ini kami bergerak di Desa Jruek Bakkreh Kecamatan IndraPuri Kabupaten Aceh Besar, kami mengamati objek-objek yang ditanam oleh Bapak Drs. Muhammad Husein seperti : usaha untuk kegiatan pembibitan dan untuk tanaman selain pembibitan, kunjungan pada tanaman coklat organik dengan menggunakan tanaman sentang (Azadirachta excels) sebagai tanaman pelindung, mempelajari teknik pembuatan pupuk organik, dan mempelajari budidaya jamur tiram.





1.2. Tujuan Studi Lapang
Kegiatan studi lapang ini merupakan kelengkapan dari proses pembelajaran kepada mahasiswa yang tidak hanya cukup dilakukan secara tatap  muka saja melainkan harus dilengkapi aktivitas “laboratorium” berupa studi lapang. Untuk menambah wawasan mahasiswa/I yang lebih luas yang berkaitan dengan ilmu pertanian khususnya.Sekaligus mengenal berbagai kendala-kendala sehingga mahasiswa dapat berlatih menganalisis dan memecahkan masalah yang terjadi di lapangan.



BAB II
LAPORAN KUNJUNGAN LAPANGAN


2.1 Perkenalan dengan pengurus
Secara umum kegiatan Studi lapang adalah sebagai berikut:
Perkenalan dengan pengurus Drs. Muhammad Husein selaku ketua Rehabilitas Balai Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya Desa Jruek Bakkreh Kecamatan Indra Puri Kabupaten Aceh Besar.

2.2. Kunjungan pada tanaman Coklat Organik
Kunjungan pada tanaman coklat organik dengan menggunakan tanaman pelindung yaitu dengan menggunakan tanaman sentang (Azadirachta excelsa). Tanaman coklat yang di kembangkan adalah varietas CFC , yang di tanam beserta tanaman  sentang sebagai naungan (tanaman pelindung). Jarak tanam sentang dengan sentang  1,80 x 1,80 meter sedangkan coklat ditanam 3,6 x3,6 meter. Sentang berfungsi sebagai tanaman naungan (tanaman pelindung) coklat.
Pada umur coklat 3 tahun 8 bulan  panen  pertama  dilakukan. Pupuk yang diberikan adalah pupuk organik 3,5 kg  dalam sekali pemupukan, berat dalam 10 buah coklat bisa menghasilkan 1 kg  benih kering dan di jual ke distributor terdekat.
Tanaman kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu tanaman perkebunan yang dikembang luaskan dalam rangka peningkatan sumber devisa negara dari sektor nonmigas. Tanaman kakao tersebut merupakan salah satu anggota genus Theobroma dari familia Sterculaieeae yang banyak dibudidayakan. Kakao juga merupakan salah satu komuditas yang sangat penting, karena selain sebagai sumber penghidupan jutaan petani produsen, kakao juga digunakan sebagai salah satu bahan kue-kue dan berbagai jenis minuman(Sunanto, 2002).
A.    Syarat Tumbuh Tanaman Kakao
1.      Iklim
Lingkungan yang alami bagi tanaman kakao adalah hutan tropis, dengan demikian curah hujan, suhu, kelembaban udara, intensitas cahaya dan angin merupakan faktor pembatas penyebaran tanaman kakao. Tanaman kakao dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian 0 – 600 meter diatas permukaan laut, dengan penyebaran meliputi 20˚ LU dan 20˚ LS. Daerah yang ideal untuk pertumbuhannya berkisar antara 10˚ LU dan 10˚ LS.
Tanaman kakao dalam pertumbuhan dan perkembangannya membutuhkan persediaan air yang cukup. Air ini diperoleh dari dalam tanah yang berasal dari air hujan atau air siraman. Curah hujan yang optimal untuk pertumbuhan tanaman kakao berkisar antara 1.500 – 2.000 mm setiap tahun, dengan penyebaran yang merata sepanjang tahun. Curah hujan 1.354 mm/tahun dianggap cukup jika hujan merata sepanjang tahun dengan musim kering tidak lebih dari 3 bulan (Anonim. 2003).
Zulpan (1992) menyatakan suhu yang ideal untuk pertumbuhan tanaman kakao adalah sekitar 25 - 27˚ C dengan fluktuasi suhu yang tidak terlalu besar. Rata-rata suhu minimum adalah 13 - 21˚ C dan rata-rata suhu maksimum adalah 30 - 32˚ C. Berdasarkan kesesuaian terhadap suhu tersebut maka tanaman kakao secara komersial sangat baik dikembangkan di daerah tropis. Untuk terjaminnya keseimbangan metabolisme maka kelembaban yang dikehendaki tanaman kakao adalah 80% sesuai dengan iklim tropis.
Tumpal (2005) menyatakan pada penanaman tanaman kakao intensitas cahaya ternyata lebih penting artinya dalam mempengaruhi pertumbuhan kakao dari pada unsur hara dan air. Di samping pengaruh langsung terhadap potosintesis, intensitas cahaya juga berpengaruh terhadap proses trasparasi dan degrasi klorofil daun. Selanjutnya intensitas cahaya matahari yang diterima tanaman kakao berpengaruh terhadap pertumbuhan. Kebutuhan tanaman terhadap intensitas cahaya matahari bervariasi, tergantung pada fase pertumbuhan dan umur tanaman. Intensitas cahaya yang ideal bagi tanaman kakao adalah antara 50 – 70%.
2.      Tanah
            Tanaman kakao untuk tumbuhnya memerlukan kondisi tanah yang mempunyai kandungan bahan organ yang cukup, lapisan olah yang dalam untuk membantu pertumbuhan akar, sifat fisik yang baik seperti struktur tanah yang gembur juga sistem drainase yang baik. PH tanah yang ideal berkisar antara 6 – 7.
            Menurut Soedarsono (1995) tanah mempunyai hubungan erat dengan sistem perakaran tanaman kakao, karena perakaran tanaman kakao sangat dangkal dan hampir 80% dari akar tanaman kakao berada disekitar 15 cm dari permukaan tanah, sehingga untuk mendapatkan pertumbuhan yang baik tanaman kakao menghendaki struktur tanah yang gembur agar perkembangan akar tidak terhambat.
3.      Naungan
Pembibitan kakao membutuhkan naungan, karena benih kakao akan lebih lambat pertumbuhannya pada pencahayaan sinar matahari penuh. Penanaman kakao tanpa pelindung saat ini giat diteliti dan diamati karena berhubungan dengan biaya penanaman maupun pemeliharaan. Penanaman dilakukan dipagi hari pada musim hujan tenyata lebih baik hasilnya kalau sore/malam harinya, jika hujan yang turun 2 hari kemudian. Dengan demikian, air dan hara memang merusak faktor penentu bila mana cahaya matahari dimanfaatkan semaksimal mungkin bagi pertanaman kakao (Tumpal, 2005).

B.     Pembibitan Tanaman Kakao.
            Bibit kakao sebagai bahan tanaman kakao dapat dibiakkan dengan biji, okulasi, cangkok dan stek, yang biasa digunakan adalah dengan biji, okulasi dan stek. Untuk mendapatkan bahan tanam yang sehat dan jagur benih yang digunakan sebaiknya digunakan dari pohon induk terpilih yang telah teruji kualitasnya. Biji yang digunakan untuk benih dari buah yang tua pada bagian tengah buah, yakni 2/3 bagian dari untaian biji. Biji bagian pangkal dan ujung tidak diikutsertakan sebagai bahan tanam.
            Pembibitan tanaman kakao umumnya dilakukan dalam kantong plastik (polybag). Sebelum dipindahkan ke dalam polybag terlebih dahulu biji-biji tersebut dikecambahkan dalam bedengan persemaian. Benih yang didederkan pada persemaian dalam keadaan tegak, dimana ujung biji tempat tumbuh radikula ditegakkan di sebelah bawah. Jika keadaan lingkungan mendukung pertumbuhan benih, maka benih tersebut akan berkecambah pada umur 4 – 5 hari setelah pedederan, tetapi biji yang belum berkecambah masih dapat dibiarkan selama 2 – 3 hari sebelum dibuang sebagai biji apkir bagi yang tidak tumbuh (Abdoellah dan Pujianto, 1994).
            Stadia kecambah yang baik untuk dipindahkan ke polybag adalah kecambah yang keping bijinya belum terbuka,  karena jika keping bijinya telah membuka berarti akar tunggang sudah panjang serta akar lateral telah bercabang-cabang. Hal ini akan menyulitkan pada saat pemindahan dan sering mengakibatkan akar tunggang menjadi bengkok, sehingga pertumbuhan tanaman menjadi terhambat. Supaya bibit tidak rusak maka pencabutan bibit dari persemaian sebaiknya dengan menyertakan pasir bedengan(Abdoellah dan Pujianto, 1994).
            Pemeliharaan pada pembibitan perlu dilakukan untuk mendapatkan pertumbuhan bibit yang sehat dan jagur, Pemeliharaan bibit meliputi penyiraman, pemupukan, penyemprotan insektisida dan fungisida serta pengaturan naungan yang disesuaikan dengan umur bibit. Naungan dapat dijarangkan sebanyak 50% pada saat bibit berumur 2 – 2,5 bulan dan beransur-ansur dikurangi setelah bibit berumur 3 – 3,5 bulan. Hal ini dilakukan untuk mengadaptasikan bibit agar dapat menyesuaikan diri dengan keadaan lapangan. Bibit yang telah berumur 4 – 6 bulan dipembibitan siap untuk ditanam ke lapangan (Soedarsono dan Pujianto, 1999).

2.3. Pembuatan Pupuk Organik
2.3.1 Pembuatan Kompos Dengan Menggunakan Trichoderma .spp
Pada saat kami melakukan kunjungan lapangan yang berada di Pusat Pelatihan Pertanian Dan Pedesaan Swadaya pembuatan kompos mereka menggunakan bioaktifator Trichoderma.spp sebagai dekomposer dengan perbandingan sebagai berikut:
            Bahan-bahan yang digunakan :
Ø  Kotoran hewan
Ø   Dedak
Ø  Serbuk gergaji
Ø  Abu sekam
Ø   EM4
Ø  Gula yang telah dicairkan
Ø  Trichoderma .spp
Ø  Air secukupnya
Cara Pembuatannya :
·         Sekam padi, serbuk gergaji, sisa tanaman dan dedak dicampur secara merata bersamaan dengan Trichoderma .spp
·         Kemudian tuangkan MOL (yang sebelummya telah di encerkan dengan air) kedalam bahan tersebut.
·         Kemudian ditutup dengan plastik hitam selama 4-7 hari
·         Pertahankan gundukan adonan maksimal 500 oC, bila suhunya lebih dari 500 oC turunkan suhunya dengan cara membolak balik.
·         Kemudian tutup kembali dengan plastik hitam.
·         Suhu yang tinggi dapat mengakibatkan bokashi menjadi rusak karena terjadi proses pembusukan.
·         Pengecekan suhu sebaiknya dilakukan setiap 5 jam sekali.
·         Setelah 4-7 hari bokashi telah selesai fermentasi dan siap digunakan sebagai pupuk organik.

2.3.2 Cara Pembuatan MOL (Mikro Organisme Lokal.)
Mol (Mikro Organisme Lokal) yang berfungsi untuk memberikan makanan tambahan bagi pasukan pelapuk. Teknik Pembuatan Pupuk Mol  adalah sebagai berikut:
Bahan-bahan yang digunakan :
Ø  1 liter air biasa.
Ø  Air cucian beras.
Ø  Gula 3 sendok makan.
Ø  Buah-buahan yang manis seperti buah papaya yang telah busuk.
Cara Pembuatannya :
·         Buah-buah yang manis dihancurkan atau diblender sampai rata kira-kira sampai    50 %  kandungan air dalam buahnya.
·         Tambahkan gula 3 sendok dan air beras, diaduk sampai rata ditutup yang rapat dan disimpan di tempat yang tidak terkena mata hari secara langsung.
·         Setelah 7 hari MOL dapat digunakan.
2.3.3 Cara Pembuatan Biopestisida.
Biopestisida berfungsi untuk mengatasi gangguan hama dan penyakit. Teknik Pembuatan Biopestisida adalah sebagai berikut :
Bahan-bahan yang digunakan :
Ø  Kunyit
Ø  Jahe
Ø  1 Tandan buah pinang muda dan 1 tandan bunganya
Ø  jeregen air kelapa muda atau 30 liter
Ø  Batang Lengkuas 3 kg
Ø  Halia 3 kg
Ø  Batang sere
Ø  Daun capa
Ø  Daun serba rasa
Ø  Daun nimbi
Ø  Daun sentang
Ø  Daun lempuyang
Ø  Daun terong
Ø  Daun cengkeh
Ø  Daun langsat
Ø  Dua drum besar

Cara Pembuatannya :
·         Seluruh bahan dicincang halus  kecuali drum besar yang jumlahnya ⅓ bagian dan ⅔ bagian lagi terdiri dari air,lalu masukan seluruh bahan yang di cincang kedalam drum dan dicampur menjadi satu.
·         Kemudian air dipanaskan hingga mendidih didalam drum  tersebut dan setelah air mendidih  turun menjadi 50%bagian dari campuran tersebut, kemudian kita diamkan sampai air menjadi dingin ,lalu dicampur dengan urin sapi kemudian diaduk terus .lalu ditutup hingga kedap udara selama 1 minggu,agar campuran bereaksi sempurna. Setelah 1 minggu kemudian bisa digunakan untuk menyemprot hama dengan dosis 0,5 liter ditambah air 13,5 liter.
2.4  Mempelajari Budidaya Jamur Tiram.
Dari data yang saya dapatkan dilapangan proses pembudidayaan jamur tiram yaitu : media yang digunakannya adalah serbuk gergaji, dedak, gypsum. Semua bahan tersebut diaduk dan difermentasikan selama 24 jam. Setelah itu dimasukkan kedalam badlock pensterilan yang suhu nya 120C, Sedangkan bibitnya diperoleh dari Sukabumi.




BAB III
METODE PELAKSANAAN

3.1. Lokasi dan Waktu Kegiatan
Kegiatan Studi Lapang ini dilaksanakan di Balai Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya Desa Jruek Bakkreh Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar. Pelaksanan Studi Lapang ini dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 08 Januari 2012 yang dimulai pada pukul 08:30 sampai dengan selesai.

3.2. Alat dan Bahan
1.      Alat tulis menulis
2.      Kamera
3.      Objek Tanaman

3.3. Metode Studi Lapang
Metode pengumpulan data studi lapang dengan cara :
1.      Pengumpulan data Primer, yaitu memperoleh data dengan cara melakukan pengamatan secara langsung dilapangan dan hasil wawancara di lapangan.
2.      Dari data tinjauan pustaka, dilaksanakan untuk melengkapi dan mendukung data diperoleh dari beberapa literatur yang ada hubungannnya pelaksanaan studi lapang.


BAB IV
PEMBAHASAN

4.1. Pembibitan Kakao
Perbanyakan tanaman kakao lebih sering dilakukan dengan cara generatif karena bibit dihasilkan dalam waktu yang cepat dan jumlah yang banyak.
4.1.1.      Persyaratan Benih 
Benih yang baik berasal dari buah berbentuk normal, sehat dan masak di pohon Buah tersebut berwarna kuning, jika diguncang timbul suara dan jika diketuk dengan tangan timbul gema. Bibit yang baik harus memenuhi persyaratan, antara lain:
Ø  Pertumbuhan bibit normal, yaitu tidak kerdil dan tidak terlalu jagur.
Ø  Bebas hama dan penyakit serta kerusakan lainnya.
Ø  Berumur 4–6 bulan. 
4.1.2.      Penyiapan Benih 
Buah dipotong membujur, lalu benih yang berada di bagian tengah diambil sebanyak 20-25. Bersihkan lendir buah dengan meremas-remasnya dalam serbuk gergaji lalu dicuci dengan air dan direndam dengan fungisida. Benih dijemur di bawah sinar matahari. Benih yang baik memiliki daya kecambah sedikitnya 80%.
4.1.3.      Teknik Penyemaian Benih 
Lokasi bedengan persemaian dibersihkan dari pohon dan rumput serta batu dan kerikil. Ukuran bedengan 1,2 x 1,5 m panjang 10-15 m dan tinggi 10 cm arah utara-selatan. Tanah bedengan dicangkul 30 cm, setelah dirapikan diberi lapisan pasir 5-10 cm dan tepi bedengan diberi dinding penahan dari kayu/batu bata. Bedengan diberi naungan dari anyaman daun alang-alang, kelapa/tebu dengan tinggi atap di sisi Timur 1,5 m dan di sisi Barat 1,2 m.  Sebelum disemai benih dicelup ke dalam formalin 2,5% selama 10 menit. Benih dibenamkan (mata benih diletakkan di bagian bawah) ke dalam lapisan pasir sedalam 1/3 bagian dengan jarak tanam 2,5 x 5 cm.  Segera setelah penyemaian, benih disiram. Penyiraman selanjutnya dilakukan dua kali sehari dan disemprot insektisida jika perlu. Keping biji terbuka tidak serentak sehingga perlu dibantu dengan tangan. Setelah 4-5 hari di persemaian benih sudah berkecambah dan siap dipindahtanamkan ke polybag. 
4.1.4.      Pemeliharaan Pembibitan 
Media pembibitan berupa campuran tanah subur, pupuk kandang dan pasir dengan perbandingan 2:1:1, kemudian media ini  diayak dan dimasukkan ke dalam polybag 20 x 30 cm sampai 1-2 cm di bawah tepi polybag.  Kecambah yang memenuhi syarat untuk dipindahkan ke dalam pembibitan berkecambah pada hari ke 4-5 dan akarnya lurus. Satu kecambah kakao dimasukkan ke dalam lubang sedalam telunjuk, lalu lubang ditutup dengan media.  Polybag berisi kecambah disimpan di lokasi pembibitan dengan jarak 60 cm dalam pola segitiga sama sisi. Supaya tidak bergerak, polibag diletakkan di dalam alur sedalam 5 cm atau ditimbun dengan tanah secukupnya. Pembibitan dinaungi oleh pohon pelindung atau dibuat atap dari anyaman bambu Pembibitan disiram dua kali sehari kecuali jika hujan. Air siraman tidak boleh menggenangi permukaan media.  Bibit  dipupuk setiap 14 hari sampai berumur 3 bulan dengan ZA (2 gram/bibit) atau urea (1 gram/bibit) atau NPK (2 gram/bibit). Pupuk diberikan pada jarak 5 cm melingkarai batang kecuali untuk urea yang diberikan dalam bentuk larutan. Pengendalian hama dilakukan dengan penyemprotan insektisida dan fungisida setiap 8 hari.  
4.1.5.      Pemindahan Bibit 
Setelah berumur 3 bulan, bibit dalam polybag dipindahkan ke lapangan dan naungan dikurangi secara bertahap.  Bibit yang baik untuk ditanam di lapangan berumur 4-5 bulan, tinggi 50-60 cm, berdaun 20-45 helai dengan sedikitnya 4 helai daun tua, diameter batang 8 mm dan sehat. Dengan jarak tanam 4 x 4 m.

BAB V
KESIMPULAN

5.1. Kesimpulan

Ø  Teknik pembibitan tanaman Kakao ini sangat bagus sekali bila dikembangkan, karena teknik pembibitan merupakan hal utama untuk menentukan atau mendapatkan hasil tanaman kakao yang berkualitas baik.
Ø  Dalam teknik pembibitan tanaman Kakao, kendala yang sering dihadapi adalah serangan hama dan penyakit.

5.2. Saran

1.      Untuk lebih menjadikan BALAI PUSAT PELATIHAN PERTANIAN DAN PEDESAAN SWADAYA sebagai sentral produksi bibit tanaman Kakao, sebaiknya dikembangkan bibit kakao jenis yang lainnya.
2.      Demi keunggulan suatu tanaman yang dihasilkan, hendaknya BALAI PUSAT PELATIHAN PERTANIAN DAN PEDESAAN SWADAYA mendaftarkan tanaman induk yang digunakan ke Badan Pengawas dan Sertifikasi Benih (BPSB) sehingga bibit tanaman yang dihasilkan lebih terjamin kualitasnya.
3.      Diharapkan untuk pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan kakao agar dikendalikan secara alami, jangan menggunakan pestisida.



DAFTAR PUSTAKA


Abdoellah, S. dan Pujianto, Beberapa Metode Penentuan Jenis dan Dosis Pupuk untuk Kakao dan Kopi, Prosiding Simposium Optimalisasi Kesuburan Tanah, Jember, 14 January 1992.

Anonim. 2003. Pedoman Teknis Budidaya Tanaman Kakao (Theobroma cacao L.). Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Jember. 97 hlm.

Soedarsono. 1995. Pengangkutan Benih Coklat dalam Bentuk Biji Tanpa Kulit. Warta BPP, Jember. 115 hlm.

Soedarsono dan Pujianto. 1999. Persiapan Lahan untuk Penanaman Kakao, Makalah Pelatihan Budidaya dan Pengolahan Kakao. PT Tulus Tri Tunggal, Jember. 1999.
                                                               
Susanto, F.X. 1995. Budidaya dan Pengolahan Hasil Tanaman Kakao. PT Agromedia Pustaka, Jakarta.157 hlm.

Tumpal, S. 2005. Pembudidayaan, Pengolahan dan Pemasaran Coklat. PT Tulus Tri Tunggal, Jember. 215 hlm.

Zulfan. 1992. Studi Media Pembibitan Coklat (Theobroma cacao L.) Laporan Karya Ilmiah, Jurusan Budidaya Pertanian, Faperta IPB. Bogor. 45 hlm.


0 komentar:

Posting Komentar