Kendala yang dihadapi petani
khususnya di Indonesia adalah kendala biaya. Biaya produksi petani menjadi
semakin tinggi ketika biaya-biaya inovasi yang selama ini sudah digunakan juga
meningkat, seperti semakin mahalnya harga pupuk dan pestisida. Atau tidak
terjangkaunya harga-harga mesin pertanian guna mempermudah dan mempercepat
produksi pertanian.
Survei ini semakin memperkuat data
dari BPS bahwa pada tahun 2007 jumlah penduduk miskin tercatat 3,2 juta jiwa. Sekitar
63,4% dari jumlah tersebut berada di perdesaan dengan mata pencaharian utama di
sektor pertanian dan 80% berada pada skala usaha mikro yang memiliki luas lahan
lebih kecil dari 0,3 hektar. Inovasi yang sudah ada banyak terhambat dalam
masalah faktor biaya.
Petani yang disurvei menjawab
kendala biaya sebanyak 62% dan hambatan akses informasi sebanyak 13%. Hal ini
menunjukkan bahwa inovasi yang ada selama ini masih dirasakan mahal dan
infromasi mengenai inovasi-inovasi baru sulit mereka dapatkan. Solusi
parkatisnya adalah memperlancar arus infromasi yaitu dengan pemberdayaan
kembali penyuluh sebagi ujung tombak pemerintah di dalam menyebarluaskan
informasi dan inovasi serta memberikan bantuan permodalan bagi petani.
Program-program Departemen Pertanian
yang salah satunya Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) merupakan
bentuk fasilitasi bantuan modal usaha untuk petani. Kendala biaya tidak
terlepas dari masalah perekonomian secara makro. Untuk melakukan inovasi yang
sudah ada petani membutuhkan biaya yang cukup tinggi, sehingga salah satu
solusinya adalah dengan program kelompok tani. Departemen Pertanian banyak
memberikan bantuan baik modal usaha maupun mesin-mesin pertanian yang dikelola
oleh kelompok tani. Program-program tersebut diharapkan mampu mengatasi
kendala-kendala yang dihadapi petani seperti kendala biaya dan akses informasi
dalam aplikasi inovasi dan mengembangkan inovasi-inovasi baru.
Sebagus apapun inovasi yang ada jika
tidak ditunjang dengan kemampuan finansial petani maka inovasi tersebut akan
sulit untuk diaplikasikan. Namun, inovasi seperti alat traktor dan mesin panen
sudah banyak diterapkan meskipun kepemilikan alat masih secara berkelompok.Sedangkan
inovasi di bidang irigasi dan panen, terkendala kepada permodalan dan faktor sosial.
Pompa air terasa penting bagi petani ketika iklim yang tidak menentu akibat
perubahan iklim global dan terjadinya kekeringan akibat tidak ada hujan. Dan
harga pompa air belum terjangkau oleh petani kecuali dengan cara membeli secara
berkelompok atau iuran. Mesin panen seperti perontok padi, sudah banyak
digunakan oleh kalangan petani. Namun demikian kendala sosial seperti
mengurangi tenaga kerja akibat penggunaan mesin panen menjadikan para petani
belum menggunakan mesin panen secara massal.








