Dalam bidang pertanian pestisida merupakan sarana untuk
membunuh hama-hama tanaman. Dalam konsep Pengendalian Hama Terpadu, pestisida
berperan sebagai salah satu komponen pengendalian. Prinsip penggunaannya
adalah:
1.
Harus kompatibel dengan komponen pengendalian lain, seperti
komponen hayati.
2.
Efisien untuk mengendalikan hama tertentu.
3.
Meninggalkan residu dalam waktu yang tidak diperlukan.
4.
Tidak boleh persistent, jadi harus mudah terurai.
5.
Dalam perdagangan (transport, penyimpanan, pengepakan,
labeling) harus memenuhi persyaratan keamanan yang maksimum.
6.
Harus tersedia antidote untuk pestisida tersebut.
7.
Sejauh mungkin harus aman bagi lingkungan fisik dan biota.
8.
Relatif aman bagi pemakai (LD50 dermal dan oral relatif
tinggi).
9.
Harga terjangkau bagi petani.
Idealnya teknologi pertanian maju
tidak memakai pestisida. Tetapi sampai saat ini belum ada teknologi yang
demikian. Pestisida masih diperlukan, bahkan penggunaannya semakin meningkat.
Pengalaman di Indonesia dalam menggunakan pestisida untuk program intensifikasi,
ternyata pestisida dapat membantu mengatasi masalah hama padi. Pestisida dengan
cepat menurunkan populasi hama, hingga meluasnya serangan dapat dicegah, dan
kehilangan hasil karena hama dapat ditekan.
Pengalaman di Amerika Latin
menunjukkan bahwa dengan menggunakan pestisida dapat meningkatkan hasil 40
persen pada tanaman coklat. Di Pakistan dengan menggunakan pestisida dapat
menaikkan hasil 33 persen pada tanaman tebu, dan berdasarkan catatan dari FAO
penggunaan pestisida dapat menyelamatkan hasil 50 persen pada tanaman kapas.
Dengan melihat besarnya kehilangan
hasil yang dapat diselamatkan berkat penggunaan pestisida, maka dapat dikatakan
bahwa peranan pestisida sangat besar dan merupakan sarana penting yang sangat
diperlukan dalam bidang pertanian. Usaha intensifikasi pertanian yang dilakukan
dengan menerapkan berbagai teknologi maju seperti penggunaan pupuk, varietas
unggul, perbaikan pengairan dan pola tanam akan menyebabkan perubahan ekosistem
yang sering diikuti oleh meningkatnya problema serangan jasad pengganggu.
Demikian pula usaha ekstensifikasi pertanian dengan membuka lahan pertanian
baru, yang berarti melakukan perombakan ekosistem, sering kali diikuti dengan
timbulnya masalah serangan jasad pengganggu. Dan tampaknya saat ini yang dapat
diandalkan untuk melawan jasad pengganggu tersebut yang paling manjur hanya
pestisida. Memang tersedia cara lainnya, namun tidak mudah untuk dilakukan,
kadang-kadang memerlukan tenaga yang banyak, waktu dan biaya yang besar, hanya
dapat dilakukan dalam kondisi tertentu yang tidak dapat diharapkan
efektifitasnya. Pestisida saat ini masih berperan besar dalam menyelamatkan
kehilangan hasil yang disebabkan oleh jasad pengganggu.
PENGGUNAAN PESTISIDA YANG BAIK DAN BENAR DENGAN RESIDU
MINIMUM
Telah disadari bahwa pada umumnya pestisida
merupakan bahan berbahaya yang dapat menimbulkan pengaruh negatif terhadap
kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan hidup. Namun demikian, pestisida
juga dapat memberikan manfaat, sehingga pestisida banyak digunakan dalam
pembangunan di berbagai sektor, termasuk pertanian. Memperhatikan manfaat dan
dampak negatifnya, maka pestisida harus dikelola dengan sebaik-baiknya sehingga
dapat diperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dengan dampak negatif yang
sekecil-kecilnya.
Pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dengan menggunakan
pestisida banyak dilakukan secara luas oleh masyarakat, karena pestisida
mempunyai kelebihan dibandingkan dengan cara pengendalian yang lain, yaitu:
v
dapat diaplikasikan secara
mudah;
v
dapat diaplikasikan hampir di
setiap tempat dan waktu;
v
hasilnya dapat dilihat dalam
waktu singkat;
v
dapat diaplikasikan dalam areal
yang luas dalam waktu singkat; dan
v
mudah diperoleh, dapat dijumpai
di kios-kios pedesaan sampai pasar swalayan di kota besar.
Di samping memiliki kelebihan tersebut di
atas, pestisida harus diwaspadai karena dapat memberikan dampak negatif, baik
secara langsung maupun tidak langsung, antara lain:
v
keracunan dan kematian pada
manusia; ternak dan hewan piaraan; satwa liar; ikan dan biota air lainnya;
biota tanah; tanaman; musuh alami OPT;
v
terjadinya resistensi,
resurjensi, dan perubahan status OPT;
v
pencemaran lingkungan hidup;
v
residu pestisida yang berdampak
negatif terhadap konsumen; dan
v
terhambatnya perdagangan hasil
pertanian.
Di antara berbagai dampak negatif penggunaan
pestisida tersebut di atas, masalah residu pestisida pada hasil pertanian
dewasa ini mendapat perhatian yang makin serius bagi kepentingan nasional
maupun internasional. Hal tersebut disebabkan oleh;
v
makin meningkatnya kesadaran
individu (konsumen) tentang pengaruh negatif residu pestisida pada hasil
pertanian terhadap kesehatan manusia. Kesadaran ini telah muncul di
negara-negara maju dan meluas ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Konsumen akan memilih hasil pertanian yang aman konsumsi (dalam hal ini yang
bebas pestisida) atau kalau mengandung residu pestisida, maka kadarnya masih di
bawah batas toleransi.
v
makin ketatnya persyaratan
keamanan pangan, yang berakibat pada meningkatnya tuntutan terhadap mutu pangan
(kualitas produk).
v
terjadinya hambatan perdagangan
hasil pertanian terutama dalam ekspor.
CARA PENGGUNAAN PESTISIDA
Cara penggunaan pestisida yang tepat
merupakan salah satu faktor yang penting dalam menentukan keberhasilan pengendalian
hama. Walaupun jenis obatnya manjur, namun karena penggunaannya tidak benar,
maka menyebabkan sia-sianya penyemprotan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
penggunaan pestisida, di antaranya adalah keadaan angin, suhu udara, kelembapan
dan curah hujan. Angin yang tenang dan stabil akan mengurangi pelayangan
partikel pestisida di udara. Apabila suhu di bagian bawah lebih panas,
pestisida akan naik bergerak ke atas. Demikian pula kelembapan yang tinggi akan
mempermudah terjadinya hidrolisis partikel pestisida yang menyebabkan kurangnya
daya racun. Sedang curah hujan dapat menyebabkan pencucian pestisida,
selanjutnya daya kerja pestisida berkurang.
Hal-hal teknis yang perlu diperhatikan dalam
penggunaan pestisida adalah ketepatan penentuan dosis. Dosis yang terlalu
tinggi akan menyebabkan pemborosan pestisida, di samping merusak lingkungan.
Dosis yang terlalu rendah menyebabkan hama sasaran tidak mati. Di samping
berakibat mempercepat timbulnya resistensi.
1.
Dosis pestisida
Dosis adalah jumlah pestisida dalam liter
atau kilogram yang digunakan untuk mengendalikan hama tiap satuan luas tertentu
atau tiap tanaman yang dilakukan dalam satu kali aplikasi atau lebih. Ada pula
yang mengartikan dosis adalah jumlah pestisida yang telah dicampur atau
diencerkan dengan air yang digunakan untuk menyemprot hama dengan satuan luas
tertentu. Dosis bahan aktif adalah jumlah bahan aktif pestisida yang dibutuhkan
untuk keperluan satuan luas atau satuan volume larutan. Besarnya suatu dosis
pestisida biasanya tercantum dalam label pestisida.
2.
Konsentrasi pestisida
Ada tiga macam konsentrasi yang perlu
diperhatikan dalam hal penggunaan pestisida:
v
Konsentrasi bahan aktif, yaitu
persentase bahan aktif suatu pestisida dalam larutan yang sudah dicampur dengan
air.
v
Konsentrasi formulasi, yaitu
banyaknya pestisida dalam cc atau gram setiap liter air.
v
Konsentrasi larutan atau
konsentrasi pestisida, yaitu persentase kandungan pestisida dalam suatu larutan
jadi.
3.
Alat semprot
Alat untuk aplikasi pestisida terdiri atas
bermacam-macam seperti knapsack sprayer (high volume) biasanya dengan volume
larutan konsentrasi sekitar 500 liter. Mist blower (low volume) biasanya dengan
volume larutan konsentrasi sekitar 100 liter. Dan Atomizer (ultra low volume)
biasanya kurang dari 5 liter.
4.
Ukuran droplet
Ada bermacam-macam ukuran droplet:
Veri coarse spray : lebih
300 µm
Coarse spray : 400-500 µm
Medium spray : 250-400 µm
Fine spray : 100-250 µm
Mist : 50-100 µm
Aerosol : 0,1-50 µm
Fog : 5-15 µm
5. Ukuran partikel
Ada bermacam-macam ukuran partikel:
Macrogranules : lebih 300 µm
Microgranules : 100-300 µm
Coarse dusts : 44-100 µm
Fine dusts : kurang 44 µm
Smoke : 0,001-0,1 µm
6. Ukuran molekul hanya ada satu macam, yatu kurang 0,001 µm.