Rabu, 15 Agustus 2012

Teknologi Sistem Lorong (Alley Cropping) Tingkatkan Efisiensi Usahatani


Penerapan budidaya tanaman sistem lorong, dalam hal ini tanaman jagung dengan mangga, dilatabelakangi oleh kondisi dan komposisi tanaman di Maluku Utara. Maluku Utara merupakan daerah dengan luas lahan terbesar berupa perkebunan dengan agroekosistem lahan kering beriklim basah. Memadukan tanaman jagung (jangka pendek) dengan mangga (jangka panjang) diharapkan dapat meningkatkan muatan teknologi dan pola kerja petani. Waktu diantara menunggu panen dan perawatan kebun, dapat digunakan untuk penanaman dan perawatan tanaman jagung untuk mempercepat putaran pendapatan petani. Penerapan inovasi teknologi berupa pengelolaan tanaman terpadu (PTT) jagung dengan menggunakan varietas unggul, pemupukan, pengendalian hama dan peyakit, dan perawatan.
Hasil panen menunjukkan bahwa dengan populasi yang rendah dapat mencapai produktivitas 9,3 ton/ha pipilan kering Srikandi kuning. Produktivitas Bisma tidak jauh beda, dapat mencapai 10ton/ha. Inovasi sistem tanam lorong potensial mendorong gerak agribisnis, agroindustri, dan swasembada jagung di Maluku utara. Sebagai contoh 1 ha tersebut, pemanfaatan lorong tanaman kelapa yang belum produksi. Pertanaman kelapa belum menghasilkan sampai mulai berbuah (umur 0 - 4 tahun) seluas 10.261 ha yang bisa dimanfaatkan sebagai lahan lorongnya. Bila produktivitas per ha dengan sudah memperhitungkan resiko hasil sebesar 15% dari 9,3 ton/ha, maka dari luasan tersebut dihasilkan sekitar 24 ribu ton jagung. Sistem ini tentunya akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Hal ini mengingat selama 4 tahun tanaman tahunan belum menghasilkan, jagung akan panen lebih dari 8 kali. Sistem ini secara otomatis akan meningkatkan usaha tani, penyerapan tenaga kerja dan pendapatan daerah (PDRB).

0 komentar:

Posting Komentar