Penerapan budidaya tanaman sistem
lorong, dalam hal ini tanaman jagung dengan mangga, dilatabelakangi oleh
kondisi dan komposisi tanaman di Maluku Utara. Maluku Utara merupakan daerah
dengan luas lahan terbesar berupa perkebunan dengan agroekosistem lahan kering
beriklim basah. Memadukan tanaman jagung (jangka pendek) dengan mangga (jangka
panjang) diharapkan dapat meningkatkan muatan teknologi dan pola kerja petani.
Waktu diantara menunggu panen dan perawatan kebun, dapat digunakan untuk
penanaman dan perawatan tanaman jagung untuk mempercepat putaran pendapatan
petani. Penerapan inovasi teknologi berupa pengelolaan tanaman terpadu (PTT)
jagung dengan menggunakan varietas unggul, pemupukan, pengendalian hama dan
peyakit, dan perawatan.
Hasil
panen menunjukkan bahwa dengan populasi yang rendah dapat mencapai
produktivitas 9,3 ton/ha pipilan kering Srikandi kuning. Produktivitas Bisma
tidak jauh beda, dapat mencapai 10ton/ha. Inovasi sistem tanam lorong potensial
mendorong gerak agribisnis, agroindustri, dan swasembada jagung di Maluku
utara. Sebagai contoh
1 ha tersebut, pemanfaatan lorong tanaman kelapa yang belum produksi.
Pertanaman kelapa belum menghasilkan sampai mulai berbuah (umur 0 - 4 tahun)
seluas 10.261 ha yang bisa dimanfaatkan sebagai lahan lorongnya. Bila
produktivitas per ha dengan sudah memperhitungkan resiko hasil sebesar 15% dari
9,3 ton/ha, maka dari luasan tersebut dihasilkan sekitar 24 ribu ton jagung.
Sistem ini tentunya akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Hal
ini mengingat selama 4 tahun tanaman tahunan belum menghasilkan, jagung akan
panen lebih dari 8 kali. Sistem ini secara otomatis akan meningkatkan usaha
tani, penyerapan tenaga kerja dan pendapatan daerah (PDRB).








