Selasa, 23 Oktober 2012

Minggu, 21 Oktober 2012

Penelitian dan jenis penelitian

Penelitian sudah barang tentu tidak asing lagi di telinga kita, apa saja sih ruang lingkup penelitian itu? nah disini coba saya jabarkan. 

Penelitian (riset, research) merupakan penyelidikan suatu masalah secara sistematis, kritis, ilmiah, dan lebih formal. Penelitian bertujuan untuk menemukan, mengembangkan, atau menguji kebenaran suatu pengetahuan yang memiliki kemampuan deskripsi dan/atau prediksi.

Kerja penelitian umumnya terdiri dari beberapa langkah utama, yaitu : melakukan kajian terhadap permasalahan, melakukan kajian teoritik dari permasalahan untuk kemudian secara deduksi dirumuskan menjadi hipotesis dari masalah yang dihadapi, mengumpukan data empirik guna pengujian hipotesis, mengadakan uji hipotesis, dan menarik kesimpulan.
secara umum, penelitian dibagi atas dua jenis, yaitu penelitian dasar dan penelitian terapan.


a). Penelitian Dasar (Basic Research)

            Penelitian dasar atau penelitian murni adalah pencarian terhadap sesuatu karena ada perhatian atau keingintahuan terhadap hasil suatu aktivitas. Penelitian dasar dikerjakan tanpa memikirkan ujung praktis atau titik terapan. Hasil dari penelitian dasar adalah pengetahuan umum dan pengertian-pengertian tentang atau serta hubungan-hubungan. Pengetahuan umum ini untuk memecahkan masalah-masalah praktis, jadi tidak memberikan jawaban yang menyeluruh untuk tiap masalah tersebut.


b). Penelitian Terapan 

            Penelitian terapan adalah penyelidikan yang hati-hati, sistematik dan terus-menerus terhadap suatu masalah dengan tujuan untuk digunakan dengan segera pada keperluan tertentu. Hasil penelitian tidak perlu sebagai suatu penemuan yang baru, tetapi merupakan aplikasi baru dari penelitian yang telah ada.

Penelitian terapan memilih masalah yang ada hubungannya dengan keinginan masyarakat serta untuk memperbaiki praktek-praktek yang ada. Penelitian terapan diharapkan hasilnya diperoleh dalam waktu dekat/secepatnya, karena bila penelitiannya cukup lama maka diragukan hasilnya sudah kadaluarsa.


Penelitian Kuantitatif dan Penelitian Kualitatif

            Penelitian adalah suatu proses mencari suatu kebenaran yang menghasilkan dalil atau hukum. Dalam hal lain bahwa penelitian merupakan suatu proses untuk memecahkan masalah berdasarkan data yang diperoleh dari lapangan. Dlam permasalahan penelitian ini ada dua bentuk dalam teknik penelitian ini yaitu penelitian kuatitatif dan penelitian kualitatif.


a). Penelitian Kuantitatif

            Penelitian kuantitatif adalah penelitian ilmiah. Oleh karena itu penelitian ini menggunakan metode ilmiah yang memiliki kriteria seperti: berdasarkan fakta, bebas prasangka, menggunakan prinsip analisa, menggunakan hipotesa, menggunakan ukuran objektif dan meggunakan data kuantitatif atau yang dikuantitatifkan. Adapun langkah-langkah dalam penelitian ini menurut Suharsimi Arikunto (1993) adalah sebagai berikut: 
1)      Memilih masalah, 
2)      studi pendahuluan, 
3)      Merumuskan masalah 
4)      Merumuskan anggapan dasar
5)      memilih pendekatan
6)      Menentukan variabel dan sumber data, 
7)      Menentukan dan menyusun instrument, 
8)      Mengumpulkan data,
9)      Analisis data, 
10)  Menarik kesimpulan, 
11)  Menulis laporan. Langkah 1 sampai 7 adalah rencana penelitian, langkah 8 sampai 10 adalah pelaksanaan penelitian dan langkah 11 adalah pembuatan penelitian.


b). Penelitian Kualitatif


            Penelitian dengan meggunakan metode kualitatif merupakan penelitian yang bersifat non ilmiah yang datanya bersifat kualitatif. Penelitian ini bukan penelitian ilmiah tetapi penelitian yang bersifat alamiah. Penelitian kualitatif memiliki ciri-ciri tertentu yang membedakannya dengan penelitian jenis lainnya. Ciri-ciri tersebut diantaranya adalah: 
1)      Berdasarkan alamiah, 
2)      Manusia sebagai instrument,
3)      Modelnya kualitatif, 
4)      Analisis datanya secara induktif, 
5)      Teori dari dasar
6)      Deskriptif, 
7)      Lebih mementingkan proses daripada hasil, 
8)      Adanya batas yang ditentukan oleh fokus, 
9)      Adanya kriteria khusus untuk keabsahan data, dan 
10)  Desain penelitian dibandingkan dan disepakati bersama



Jumat, 19 Oktober 2012

Berapa keuntungan Pabrik PKS


BERAT :         Gross            = berat truk + beratTBS
                    Bruto            = berat TBS + berat potongan
                    Netto            = berat bersih

Contoh ;  satu unit truk tbs mempunyai berat sbb :
Gross = 10 ton
Bruto = 8 ton

11 ton → prediksi berat bruto tbs adalah 8 ton
Berapa rendemen  CPO ?


Jawab :
           Target pabrik adalah 22% rendemen untuk CPO
           Prediksi rendemen CPO dari truk tersebut adalah 20%
           Kekurangan dari target tersebut adalah 2%.

5 kg tbs = 1 kg CPO
Jadi 2% CPO = 10 kg tbs

Berapa tbs yang harus dipototng untuk mendapatkan target perusahaan?

Jawab :    10% x 8 ton
                = 800 kg tbs yang harus dipotong

Jadi  netto tbs setelah ditimbang adalah 7200 kg

jadi dari 7200kg  netto TBS di perkirakan CPO sekitar 1440 kg.

Selasa, 09 Oktober 2012

Penanaman Dan Perawatan Kelapa Sawit (Elais Quinensis Jack)


PENDAHULUAN
            Kelapa sawit (Elaeis) adalah tanaman perkebunan penting penghasil minyak makanan, minyak industri, maupun bahan bakar nabati (biodiesel). Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit kedua dunia setelah Malaysia. Diperkirakan pada tahun 2009, Indonesia akan menempati posisi pertama produsen sawit dunia. Untuk meningkatkan produksi kelapa sawit dilakukan kegiatan perluasan areal pertanaman, rehabilitasi kebun yang sudah ada dan intensifikasi. Pelaku usahatani kelapa sawit di Indonesia terdiri dari perusahaan perkebunan besar swasta, perkebunan negara dan perkebunan rakyat. Usaha perkebunan kelapa sawit rakyat umumnya dikelola dengan model kemitraan dengan perusahaan besar swasta dan perkebunan negara (inti – plasma). Khusus untuk perkebunan sawit rakyat, permasalahan umum yang dihadapi antara lain rendahnya produktivitas dan mutu produksinya.
Produktivitas kebun sawit rakyat rata-rata 16 ton Tandan Buah Segar (TBS) per ha, sementara potensi produksi bila menggunakan bibit unggul sawit bisa mencapai 30 ton TBS/ha. Produktivitas CPO (Crude Palm Oil) perkebunan rakyat hanya mencapai rata-rata 2,5 ton CPO per ha dan 0,33 ton minyak inti sawit (PKO) per ha, sementara di perkebunan negara rata-rata menghasilkan 4,82 ton CPO per hektar dan 0,91 ton PKO per hektar, dan perkebunan swasta rata-rata menghasilkan 3,48 ton CPO per hektar dan 0,57 ton PKO per hektar.
            Salah satu penyebab rendahnya produktivitas perkebunan sawit rakyat tersebut adalah karena teknologi produksi yang diterapkan masih relatif sederhana, mulai dari pembibitan sampai dengan panennya. Dengan penerapan teknologi budidaya yang tepat, akan berpotensi untuk peningkatan produksi kelapa sawit.


PEMBAHASAN
TEKNIK PENANAMAN

Penentuan Pola Tanam

            Pola tanam kelapa sawit dapat monokultur ataupun tumpangsari. Pada pola tanam monokulltur, sebaiknya penanaman tanaman kacang-kacangan (LCC) sebagai tanaman penutup tanah dilaksanakan segera setelah persiapan lahan selesai. Tanaman penutup tanah (legume cover crop atau LCC) pada areal tanaman kelapa sawit sangat penting karena dapat memperbaiki sifat-sifat fisika, kimia dan biologi tanah, mencegah erosi, mempertahankan kelembaban tanah dan menekan pertumbuhan tanaman pengganggu (gulma). Sedangkan pada pola tanam tumpangsari tanah diantara tanaman kelapa sawit sebelum menghasilkan dapat
ditanami tanaman ubi kayu, jagung atau padi.
Pengajiran

            Maksud pengajiran adalah untuk menentukan tempat yang akan ditanami kelapa sawit sesuai dengan jarak tanam yang dipakai. Ajir harus tepat letaknya, sehingga lurus bila dilihat dari segala arah, kecuali di daerah teras dan kontur. Sistem jarak penanaman yang digunakan adalah segitiga sama sisi, dengan jarak 9x9x9 m. Dengan sistem segi tiga sama sisi ini, pada arah Utara – Selatan tanaman berjarak 8,82 m dan jarak untuk setiap tanaman adalah 9 m, jumlah tanaman 143 pohon/ha.

Pembuatan Lubang Tanam

            Lubang tanam dibuat beberapa hari sebelum menanam. Ukurannya adalah 50x40x40 cm. Pada waktu menggali lubang, tanah bagian atas dan bawah dipisahkan, masingmasing di sebelah Utara dan Selatan lubang.

Cara Penanaman
Penanaman dilakukan pada awal musim hujan, setelah hujan turun dengan teratur. Adapun tahapan penanaman
1.      Letakkan bibit yang berasal dari polibag di masing-masing lubang tanam yang sudah dibuat.
2.       Siram bibit yang ada pada polybag sehari sebelum ditanam agar kelembaban tanah dan persediaan air cukup untuk bibit.
3.       Sebelum penanaman dilakukan pemupukan dasar lubang tanam dengan menaburkan secara merata pupuk fosfat seperti Agrophos dan Rock Phosphate sebanyak 250 gr/lubang.
4.      Buat keratan vertikal pada sisi polybag dan lepaskan polybag dari bibit dengan hati-hati, kemudian dimasukkan ke dalam lubang.
5.      Timbun bibit dengan tanah galian bagian atas (top soil) dengan memasukkan tanah ke sekeliling bibit secara berangsur-angsur dan padatkan dengan tangan agar bibit dapat berdiri tegak.
6.       Penanaman bibit harus diatur sedemikian rupa sehingga permukaan tanah polybag sama ratanya dengan permukaan lubang yang selesai ditimbun, dengan demikian bila hujan, lubang tidak akan tergenang air.
7.       Pemberian mulsa sekitar tempat tanam bibit sangat dianjurkan

Pemeliharaan Tanaman
            Pemeliharaan tanaman meliputi penyulaman, penanaman tanaman penutup tanah, membentuk piringan (bokoran), pemupukan, dan pemangkasan daun.

Penyulaman

            Penyulaman dilakukan untuk mengganti tanaman yang mati atau tumbuh kurang baik. Penyulaman yang baik dilakukan pada musim hujan. Bibit yang digunakan harus seumur dengan tanaman yang disulam yaitu berkisar 10-14 bulan. Banyaknya sulaman sekitar 3-5% setiap hektarnya.
            Cara penyulaman sama dengan cara menanam bibit. Penanaman Tanaman Penutup Tanah Penanaman tanaman kacang-kacangan penutup tanah (LCC) pada areal tanaman kelapa sawit sangat penting karena dapat memperbaiki sifat-sifat fisika, kimia dan biologi tanah, mencegah erosi dan mempertahankan kelembaban tanah, menekan pertumbuhan gulma. Penanaman tanaman kacangkacangan sebaiknya dilaksanakan segera setelah persiapan lahan selesai. Jenis-jenis tanaman kacang-kacangan yang umum di perkebunan kelapa sawit adalah Centrosema pubescens, Colopogonium mucunoides dan Pueraria javanica. Biasanya penanaman tanaman kacangan ini dilakukan tercampur (tidak hanya satu jenis).

Membentuk Piringan (Bokoran)

            Piringan di sekitar tanaman kelapa sawit harus tetap bersih. Oleh karena itu tanah di sekitar pokok dengan jari-jari 1-2 m dari tanaman harus selalu bersih dan gulma yang tumbuh harus dibabat, atau disemprot dengan herbisida.

Piringan kelapa sawit


Pemupukan
           Jenis pupuk yang diberikan adalah pupuk N, P, K, Mg dan B (Urea, TSP, KCl, Kiserit dan Borax). Pemupukan tambahan dengan pupuk Borax pada tanaman muda sangat penting, karena kekurangan Borax (Boron deficiency) yang berat dapat mematikan tanaman kelapa sawit. Dosis pupuk yang digunakan disesuaikan dengan umur tanaman atau sesuai dengan anjuran Balai Penelitian Kelapa Sawit.


Tabel 1. Dosis pemupukan pada tanaman kelapa sawit yang sudah menghasilkan
Jenis pupuk
Dosis (kg/ph/th)
Keterangan
Urea
KCl
Kiselit
SP-36
Borax
2,0-2,5
2,5-3,0
1,0-1,5
0,75-1,0
0,05-0,01
diberikan 2x aplikasi
diberikan 2x aplikasi
diberikan 2x aplikasi
diberikan 2x aplikasi
diberikan 2x aplikasi



            Pupuk N ditaburkan merata mulai jarak 50 cm dari pokoksampai di pinggir luar piringan. Pupuk P, K dan Mg harus ditaburkan merata pada jarak 1-3 m dari pokok. Pupuk B ditaburkan merata pada jarak 30-50 cm dari pokok. Waktu pemberian pupuk sebaiknya dilaksanakan pada awal musim hujan (September-Oktober), untuk pemupukan yang pertama dan pada akhir musim hujan (Maret-April) untuk pemupukan yang kedua. Untuk tanaman yang belum menghasilkan, yang berumur 0-3 tahun, dosis pemupukan per pohon per tahunnya

Tabel 2. Dosis pemupukan pada tanaman kelapa sawit belum menghasilkan

Jenis pupuk
Dosis (kg/ph/th)
Keterangan
Urea
KCl
Kiselit
SP-36
Borax
0,40-0,60
0,20-0,50
0,10-0,20
0,25-0,30
0,02- 0,05
diberikan 2x aplikasi
diberikan 2x aplikasi
diberikan 2x aplikasi
diberikan 1x aplikasi
diberikan 2x aplikasi



            Pupuk N, P, K, Mg, B ditaburkan merata dalam piringan mulai jarak 20 cm dari pokok sampai ujung tajuk daun. Waktu pemupukan sebaiknya dilaksanakan pada awal musim hujan (September-Oktober), untuk pemupukan yang pertama dan pada akhir musim hujan (Maret-April) untuk pemupukan yang kedua.

Pemangkasan Daun

            Pemangkasan daun bertujuan untuk memperoleh pohon yang bersih dengan jumlah daun yang optimal dalam satu pohon serta memudahkan pamanenan. Memangkas daun dilaksanakan sesuai dengan umur/tingkat pertumbuhan tanaman. Macam-macam pemangkasan:

1.      Pemangkasan pasir, yaitu pemangkasan yang dilakukan terhadap tanaman yang berumur 16-20 bulan dengan maksud untuk membuang daun-daun kering dan buahbuah pertama yang busuk. Alat yang digunakan adalah jenis linggis bermata lebar dan tajam yang disebut dodos.
2.       Pemangkasan produksi, yaitu pemangkasan yang dilakukan pada umur 20-28 bulan dengan memotong daun-daun tertentu sebagai persiapan pelaksanaan panen. Daun yang dipangkas adalah songgo dua (yaitu daun yang tumbuhnya saling menumpuk satu sama lain), juga buah. buah yang busuk. Alat yang digunakan adalah dodos seperti pada pemangkasan pasir.
3.      Pemangkasan pemeliharaan, adalah pemangkasan yang dilakukan setelah tanaman berproduksi dengan maksud membuang daun-daun songgo dua sehingga setiap saat pada pokok hanya terdapat daun sejumlah 28-54 helai. Sisa daun pada pemangkasan ini harus sependek nmungkin, agar tidak mengganggu kegiatan panen.

Pengendalian Gulma
      Pengendalian gulma bertujuan untuk menghindari terjadinya persaingan antara tanaman kelapa sawit dengan gulma dalam pemanfaatan unsur hara, air dan cahaya. Selain itu pengendalian gulma juga bertujuan untuk mempermudah kegiatan panen.
Contoh gulma yang dominan di areal pertanaman kelapa sawit adalah Imperata cylindrica, Mikania micrantha, Cyperus rotundus, Otochloa nodosa, Melostoma malabatricum, Lantana camara, Gleichenia linearis dan sebagainya. Pengendalian gulma dilakukan dengan cara
penyiangan di piringan (circle weeding), penyiangan gulma yang tumbuh di antara tanaman LCC, membabat atau membongkar gulma berkayu dan kegiatan buru lalang (wiping).

Pengendalian Hama dan Penyakit

      Tanaman kelapa sawit tergolong tanaman kuat. Walaupun begitu tanaman ini juga tidak luput dari serangan hama dan penyakit, baik yang kurang membahayakan maupun yang membahayakan. Sebagian besar hama yang menyerang adalah golongan insekta atau serangga. Sedangkan penyakit yang menyerang tanaman sawit
umumnya disebabkan oleh jamur, bakteri dan virus.


Jenis-jenis Hama

Tungau

Penyebab: Tungau merah (Oligonychus). Bagian diserang adalah daun.
Gejala: Daun menjadi mengkilap dan berwarna kecoklatan.
Pengendalian: Penyemprotan dengan akarisida yang berbahan aktif tetradion 75,2 gr/lt (Tedion 75 EC) disemprotkan dengan konsentrasi 0,1-0,2%.

Ulat Setora
            Penyebab: Setora nitens. Bagian yang diserang adalah daun. Gejala: daun dimakan sehingga tersisa lidinya saja. Pengendalian: Penyemprotan dengan Pestona.

Nematoda
Penyebab: Nematoda Rhadinaphelenchus cocophilus. Hama ini menyerang akar tanaman kelapa sawit.
Gejala: Daun-daun muda yang akan membuka menjadi tergulung dan tumbuh tegak. Selanjutnya daun berubah warna menjadi kuning dan mengering. Tandan bunga membusuk dan tidak membuka, sehingga tidak menghasilkan buah.
Pengendalian: Tanaman yang terserang diracun dengan natrium arsenit. Untuk memberantas sumber infeksi, setelah tanaman mati atau kering dibongkar lalu dibakar.

Kumbang
Penyebab: Oryctes rhinoceros. Serangan hama ini cukup membahayakan jika terjadi pada tanaman muda, sebab jika sampai mengenai titik tumbuhnya menyebabkan penyakit busuk dan mengakibatkan kematian.
Pengendalian: Menjaga kebersihan kebun, terutama di sekitar tanaman. Sampah-sampah dan pohon yang mati dibakar, agar larva hama mati. Pengendalian secara biologi dengan menggunakan jamur Metharrizium anisopliae dan virus Baculovirus oryctes.

Penggerek Tandan Buah
            Penyebab: Ngengat Tirathaba mundella. Hama ini meletakkan telurnya pada tandan buah, dan setelah menetas larvanya (ulat) akan melubangi buah kelapa sawit. Pengedalian: Semprot dengan insetisida yang mengadung bahan aktif triklorfom 707 gr/lt atau endosulfan 350 gr/lt,

Ulat Api
Penyebab: Setora nitens, Darna trima dan Ploneta diducta. Hama pemakan daun.
Gejala: Helaian daun berlubang atau habis sama sekali sehingga hanya tinggal tulang daunnya. Gejala ini dimulai dari daun bagian bawah.
Pengendalian: Semprot dengan insektisida berbahan aktif triazofos 242 gr/lt karbaril 85 %, dan klorpirifos 25 ULV.

Penyakit

Root Blast
Penyebab: Rhizoctonia lamellifera dan Phythium Sp. Yang menyerang bagian akar.
Gejala: bibit di persemaian mati mendadak, tanaman dewasa layu dan mati, terjadi pembusukan akar.
Pengendalian: pembuatan persemaian yang baik, pemberian air irigasi di musim kemarau, penggunaan bibit berumur lebih dari 11 bulan. Pencegahan dengan pengunaan Natural GLIO
Garis Kuning

Penyebab: Fusarium oxysporum yang menyerang bagian daun.
Gejala: bulatan oval berwarna kuning pucat mengelilingi warna coklat pada daun, daun mengering.
Pengendalian: inokulasi penyakit pada bibit dan tanaman muda. Pencegahan dengan penggunaan Natural GLIO semenjak awal.

Dry Basal Rot

Penyebab: Ceratocyctis paradoxa yang menyerang bagian batang.
Gejala: pelepah mudah patah, daun membusuk dan kering; daun muda mati dan kering.
Pengendalian: adalah dengan menanam bibit yang telah diinokulasi penyakit.

Bud Rot

Penyebab: bakteri Erwinia. Penyakit ini sering berkaitan erat dengan serangan hama kumbang (Oryctes rhinoceros).  Setelah hama menyerang titik tumbuh, kemudian dilanjutkan dengan serangan penyakit ini yang menrupakan serangan sekunder.
Gejala: kuncup yang di tengah membusuk sehingga mudah dicabut dan berbau busuk. Akibatnya tanaman akan mati dan jika tetap hidup daun tumbuh tidak normal,
kerdil dam kurus.
Pengendalian: belum ada cara efektif yang ditemukan dalam pemberantasan penyakit ini. Untuk pencegahannya yaitu menjaga kebersihan (sanitasi) kebun terutama di
sekitar tanaman.
Catatan: Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum bisa mengatasi, dapat dipergunakan pestisida kimia yangdianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan, tambahkan perekat perata AERO 810, dosis ± 5 ml (1/2 tutup)/tangki.



KESIMPULAN

·         Teknik penanaman kelapa sawit meliputi : penentuan pola tanam, pengajiran dan pembuatan lobang tanam.
·         Pemupukan bertujuan untuk memberikan unsure hara terhadap tanaman agar dapat berproduksi secara maksimal.
·         Pengendalian hama penyakit dan gulma bertujuan agar tanaman dapat tumbuh sehat dan dapat berproduksi secara optimal
·         Kelapa sawit akan tumbuh baik apabila dilakukan perawatan yang optimal.


Rabu, 15 Agustus 2012

Teknologi Sistem Lorong (Alley Cropping) Tingkatkan Efisiensi Usahatani


Penerapan budidaya tanaman sistem lorong, dalam hal ini tanaman jagung dengan mangga, dilatabelakangi oleh kondisi dan komposisi tanaman di Maluku Utara. Maluku Utara merupakan daerah dengan luas lahan terbesar berupa perkebunan dengan agroekosistem lahan kering beriklim basah. Memadukan tanaman jagung (jangka pendek) dengan mangga (jangka panjang) diharapkan dapat meningkatkan muatan teknologi dan pola kerja petani. Waktu diantara menunggu panen dan perawatan kebun, dapat digunakan untuk penanaman dan perawatan tanaman jagung untuk mempercepat putaran pendapatan petani. Penerapan inovasi teknologi berupa pengelolaan tanaman terpadu (PTT) jagung dengan menggunakan varietas unggul, pemupukan, pengendalian hama dan peyakit, dan perawatan.
Hasil panen menunjukkan bahwa dengan populasi yang rendah dapat mencapai produktivitas 9,3 ton/ha pipilan kering Srikandi kuning. Produktivitas Bisma tidak jauh beda, dapat mencapai 10ton/ha. Inovasi sistem tanam lorong potensial mendorong gerak agribisnis, agroindustri, dan swasembada jagung di Maluku utara. Sebagai contoh 1 ha tersebut, pemanfaatan lorong tanaman kelapa yang belum produksi. Pertanaman kelapa belum menghasilkan sampai mulai berbuah (umur 0 - 4 tahun) seluas 10.261 ha yang bisa dimanfaatkan sebagai lahan lorongnya. Bila produktivitas per ha dengan sudah memperhitungkan resiko hasil sebesar 15% dari 9,3 ton/ha, maka dari luasan tersebut dihasilkan sekitar 24 ribu ton jagung. Sistem ini tentunya akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Hal ini mengingat selama 4 tahun tanaman tahunan belum menghasilkan, jagung akan panen lebih dari 8 kali. Sistem ini secara otomatis akan meningkatkan usaha tani, penyerapan tenaga kerja dan pendapatan daerah (PDRB).