Jumat, 22 Juni 2012
Sabtu, 16 Juni 2012
Biografi Pengusaha Sukses Bobsadino
hai sob apa kabar hari ini ane mau share biografi pengusaha sukses asala indonesia namanya bobsadino, ciri khas beliau mudah dikenali dari cara berpakaiannya yakni selalu menggunakan celana pendek. Bob Sadino
(Lampung, 9 Maret 1933), atau akrab dipanggil om Bob, ia seorang pengusaha peternakan dan memiliki usaha Kemfood dan Kemchick. Bob Sadino lahir
dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari
lima bersaudara. Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu
berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena
saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan.Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lylod di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed.
Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indonesia. Ia membawa serta 2 Mercedes miliknya, buatan tahun 1960-an. Salah satunya ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan sementara yang lain tetap ia simpan. Setelah beberapa lama tinggal dan hidup di Indonesia, Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk bekerja secara mandiri.
Pekerjaan pertama yang dilakoninya setelah keluar dari perusahaan adalah menyewakan mobil Mercedes yang ia miliki, ia sendiri yang menjadi sopirnya. Namun sayang, suatu ketika ia mendapatkan kecelakaan yang mengakibatkan mobilnya rusak parah. Karena tak punya uang untuk memperbaikinya, Bob beralih pekerjaan menjadi tukang batu. Gajinya ketika itu hanya Rp.100. Ia pun sempat mengalami depresi akibat tekanan hidup yang dialaminya.
Suatu hari, temannya menyarankan Bob memelihara ayam untuk melawan depresi yang dialaminya. Bob tertarik. Ketika beternak ayam itulah muncul inspirasi berwirausaha. Bob memperhatikan kehidupan ayam-ayam ternaknya. Ia mendapat ilham, ayam saja bisa berjuang untuk hidup, tentu manusia pun juga bisa.

Tidak jarang pasangan tersebut dimaki pelanggan, babu orang asing sekalipun. Namun mereka mengaca pada diri sendiri, memperbaiki pelayanan. Perubahan drastis pun terjadi pada diri Bob, dari pribadi feodal menjadi pelayan. Setelah itu, lama kelamaan Bob yang berambut perak, menjadi pemilik tunggal super market (pasar swalayan) Kem Chicks. Ia selalu tampil sederhana dengan kemeja lengan pendek dan celana pendek.
Bisnis pasar swalayan Bob berkembang pesat, merambah ke agribisnis, khususnya holtikutura, mengelola kebun-kebun sayur mayur untuk konsumsi orang asing di Indonesia. Karena itu ia juga menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah.
Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira. Ia dan istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu. Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang.
Di saat melakukan sesuatu pikiran seseorang berkembang, rencana tidak harus selalu baku dan kaku, yang ada pada diri seseorang adalah pengembangan dari apa yang telah ia lakukan. Kelemahan banyak orang, terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah. “Yang paling penting tindakan,” kata Bob.

Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu, berpikir dan bertindak serba canggih, arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain.
Sedangkan Bob selalu luwes terhadap pelanggan, mau mendengarkan saran dan keluhan pelanggan. Dengan sikap seperti itu Bob meraih simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri. Karena itu ia selalu berusaha melayani pelanggan sebaik-baiknya.
Bob menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua anggota keluarga Kem Chicks harus saling menghargai, tidak ada yang utama, semuanya punya fungsi dan kekuatan.
Anak Guru
Kembali ke tanah air tahun 1967, setelah bertahun-tahun di Eropa dengan pekerjaan terakhir sebagai karyawan Djakarta Lloyd di Amsterdam dan Hamburg, Bob, anak bungsu dari lima bersaudara, hanya punya satu tekad, bekerja mandiri. Ayahnya, Sadino, pria Solo yang jadi guru kepala di SMP dan SMA Tanjungkarang, meninggal dunia ketika Bob berusia 19.
Modal yang ia bawa dari Eropa, dua sedan Mercedes buatan tahun 1960-an. Satu ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Ketika itu, kawasan Kemang sepi, masih terhampar sawah dan kebun. Sedangkan mobil satunya lagi ditaksikan, Bob sendiri sopirnya.
Suatu kali, mobil itu disewakan. Ternyata, bukan uang yang kembali, tetapi berita kecelakaan yang menghancurkan mobilnya. ”Hati saya ikut hancur,” kata Bob. Kehilangan sumber penghasilan, Bob lantas bekerja jadi kuli bangunan. Padahal, kalau ia mau, istrinya, Soelami Soejoed, yang berpengalaman sebagai sekretaris di luar negeri, bisa menyelamatkan keadaan. Tetapi, Bob bersikeras, ”Sayalah kepala keluarga. Saya yang harus mencari nafkah.”
Untuk menenangkan pikiran, Bob menerima pemberian 50 ekor ayam ras dari kenalannya, Sri Mulyono Herlambang. Dari sini Bob menanjak: Ia berhasil menjadi pemilik tunggal Kem Chicks dan pengusaha perladangan sayur sistem hidroponik. Lalu ada Kem Food, pabrik pengolahan daging di Pulogadung, dan sebuah ”warung” shaslik di Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta. Catatan awal 1985 menunjukkan, rata-rata per bulan perusahaan Bob menjual 40 sampai 50 ton daging segar, 60 sampai 70 ton daging olahan, dan 100 ton sayuran segar.
”Saya hidup dari fantasi,” kata Bob menggambarkan keberhasilan usahanya. Ayah dua anak ini lalu memberi contoh satu hasil fantasinya, bisa menjual kangkung Rp 1.000 per kilogram. ”Di mana pun tidak ada orang jual kangkung dengan harga segitu,” kata Bob.
Om Bob, panggilan akrab bagi anak buahnya, tidak mau bergerak di luar bisnis makanan. Baginya, bidang yang ditekuninya sekarang tidak ada habis-habisnya. Karena itu ia tak ingin berkhayal yang macam-macam.
Haji yang berpenampilan nyentrik ini, penggemar berat musik klasik dan jazz. Saat-saat yang paling indah baginya, ketika shalat bersama istri dan dua anaknya.
Profil dan Biodata Bob Sadino
Nama :
Bob Sadino
Lahir :
Tanjungkarang, Lampung, 9 Maret 1933
Agama :
Islam
Pendidikan :
-SD, Yogyakarta (1947)
-SMP, Jakarta (1950)
-SMA, Jakarta (1953)
Karir :
-Karyawan Unilever (1954-1955)
-Karyawan Djakarta Lloyd, Amsterdam dan Hamburg (1950-1967)
-Pemilik Tunggal Kem Chicks (supermarket) (1969-sekarang)
-Dirut PT Boga Catur Rata
-PT Kem Foods (pabrik sosis dan ham)
-PT Kem Farms (kebun sayur)
Alamat Rumah:
Jalan Al Ibadah II/12, Kemang, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp: 793981
Alamat Kantor :
Kem Chicks Jalan Bangka Raya 86, Jakarta Selatan Telp: 793618
Referensi :
- http://pengusahamuda.wordpress.com/biografi/
- http://id.wikipedia.org/wiki/Bob_Sadino
Jumat, 01 Juni 2012
BEASISWA
selamat datang di blog saya, terima kasih atas kunjungan anda, sebagai terima kasih saya saya akan memberikan beberapa link beasiswa bagi agan2 yang berkunjung ke blog ini.
1. BEASISWA DATA PRINT
1. BEASISWA DATA PRINT
Partisipasi DataPrint dalam memajukan dunia pendidikan Indonesia
tidak henti-hentinya. Di tahun 2009, DataPrint pernah mengadakan program
DataPrint Academy yang memberikan kesempatan kepada 30 orang pelajar
SMA dari seluruh Indonesia untuk mengikuti workshop selama lima hari di
bidang kreatifitas dan entrepreneurship. Kemudian di tahun 2011,
sebanyak 700 orang pelajar dan mahasiswa telah menerima beasiswa
pendidikan dengan total ratusan juta rupiah. Para penerima beasiswa
berasal dari Pekanbaru, Bandung, Jakarta, Ponorogo, Kendari, Martapura,
Dumai, Malang, dan lain-lain.Tahun ini, DataPrint kembali membuka program beasiswa bagi 700 orang
pelajar dan mahasiswa. Program beasiswa dibagi dalam dua periode. Tidak
ada sistem kuota berdasarkan daerah dan atau sekolah/perguruan tinggi.
Hal ini bertujuan agar beasiswa dapat diterima secara merata bagi
seluruh pengguna DataPrint. Beasiswa terbagi dalam tiga nominal yaitu
Rp 250 ribu, Rp 500 ribu dan Rp 1 juta. Dana beasiswa akan diberikan
satu kali bagi peserta yang lolos penilaian. Aspek penilaian berdasarkan
dari essay, prestasi dan keaktifan peserta.Beasiswa yang dibagikan diharapkan dapat meringankan biaya pendidikan
sekaligus mendorong penerima beasiswa untuk lebih berprestasi. Jadi,
segera daftarkan diri kamu di sini
2. Beasiswa unggulan
3. Beasiswa Etos
4.Beasiswa Trikora
5. Blog Beasiswa Indonesia
6. Beasiswa Bank BNI
7. Beasiswa Bank Mandiri
8. Beasiswa Bank BCA
9. Beasiswa Bank BRI
10. http://www.rumahbeasiswa.com/
PASCA SARJANA
1. Beasiswa Swedia
2. beasiswa Fulbright 2013 bidang sains dan teknologi
3.Beasiswa Dalam negri
4.
2. Beasiswa unggulan
3. Beasiswa Etos
4.Beasiswa Trikora
5. Blog Beasiswa Indonesia
6. Beasiswa Bank BNI
7. Beasiswa Bank Mandiri
8. Beasiswa Bank BCA
9. Beasiswa Bank BRI
10. http://www.rumahbeasiswa.com/
PASCA SARJANA
1. Beasiswa Swedia
2. beasiswa Fulbright 2013 bidang sains dan teknologi
3.Beasiswa Dalam negri
4.
Senin, 28 Mei 2012
Siapa Butuh Darah Hub PEMA Unsyiah
Pemerintah Mahasiswa (PEMA) Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, mulai
Sabtu (26/5) telah membuka layanan SMS Center. Jika butuh darah cukup
kirim SMS ke nomor 085762000071.
Wamen Kominfo PEMA Unsyiah, Safrianto mengatakan, SMS yang dikirim
tersebut akan disebarkan oleh Tim Pusat Informasi Mahasiswa Unsyiah ke
seluruh Mahasiswa Unsyiah melalui SMS dan jejaring sosial seperti
Twitter dan Facebook.
“Kami yakin penyebaran informasi kebutuhan darah dengan cara seperti
ini efektif dilakukan. Sebab PEMA Unsyiah mempunyai Link yang luas
dengan berbagai element mahasiswa di lingkungan Unsyiah,” ujar Safrianto
via phone kepada Harian Aceh, Sabtu kemarin.
Selain itu, kata dia, pengurus PEMA Unsyiah sendiri dianjurkan utnuk
mendonorkan darahnya secara rutin tiga bulan sekali. Pun PEMA Unsyiah
mempunyai relawan tetap yang berjumlah ratusan orang yang siap
mendonorkan darah kapan saja dibutuhkan.
“Selain dapat membantu orang lain, donor darah juga bisa menyehatkan
tubuh si pedonor. Jadi bagi yang membutuhkan darah dengan cepat, SMS
saja ke 085762000071,” ucap Safrianto.
Dalam rangka memperingati Hari Bakti Dokter yang jatuh pada 20 Mei
lalu, PEMA Unsyiah Banda Aceh, bekerjasama dengan Ikatan Dokter
Indonesia (IDI) Aceh, menggelar aksi Donor Darah di depan Sekretariat
IDI Aceh, Lampriet, Banda Aceh pada Sabtu (26/5).
Pada kegiatan sosial yang dilakukan sekian kali itu, menghasilkan 37
kantong darah. Tigapuluh tujuhkantong darah tersebut disumbangkan ke PMI
Cabang Banda Aceh.
sumber : Harian Aceh
Minggu, 27 Mei 2012
Subulussalam Ingin kuatkan ketahanan pangan
Subulussalam. Ketahanan Pangan adalah salah satu upaya pemerintah dalam menanggulangi dan mewujudkan program pemerintah dalam menanggulangi dan mewujudkan program “Swasembada pangan”. Program ini harus di barengi beberapa terobosan, seperti pembangunan ini harus tepat guna, dalam arti harus memiliki teknik yang mapan, sesuai tufoksi lahan yang direncanakan dan juga harus memiliki perencanaan yang akurat, walaupun projek tersebut bertahap pengerjaannya. Objek sebuah projek harus benar-benar diteliti keperluannya dan para tenaga tekniknyapun harus mampu, mulai dari titik awal dan pada akhirnya projek tersebut jangan sia-sia, alias tak dapat difungsikan.
Walikota Subulussalam M. Sakti Kombih, SH selalu mengatakan bahwa ketahanan pangan perlu di ciptakan disegala sektor, akan tetapi melihat semua hal ini banyak para Kadis yang kurang mendukung, sehingga adanya projek irigasi yang tak dapat difungsikan sampai saat ini, seperti pembangunan irigasi di desa Pegayo Kecamatan Simpang Kiri dan irigasi Lae Langge yang pengerjaannya diduga tak sesuai “bestek” dan akhirnya projek ini terkesan buang-buang uang / mubazir. Program demi program demi kemaslahatan masyarakat selalu direspon oleh Walikota, terbukti memang saat ini pembangunan di Kota Subulussalam telah giat-giatnya berjalan, seperti ifnrastruktur dan pembangunan lainnya, sehingga Kota Subulussalam telah tampil beda dari tahun sebelumnya.
Kota Subulussalam telah disulap dan saat ini Kota Subulussalam akan mampu menjadi Kota yang mandiri dan maju, dan dapat berpacu dalam pembangunan di segala sektor, agar nanti dapat bersaing dengan daerah-daerah yang lain. Akan tetapi “Koreksi” sangat perlu melihat apa-apa yang belum maksimal/gagal dan yang mana yang berjalan mulus, hal ini perlu dilakukan demi perbaikan kedepan. Diterima atau tidak di Kota ini yang sedang giat dalam pembangunan masih ada projek yang tak bisa difungsikan, dan ada juga projek yang sama sekali gagal, sehingga dalam hal ini perlu sebuah pelajaran darinya, perencanaan dan pengawasan harus tegas dan SKPK terkait harus ditopang kerjasama lintas sektoral yang baik, jangan terksan mengabaikan program Kepala Daerah. (Saran).











